Perbedaan Bank Konvensional dan Bank Syariah

Perbedaan Bank Konvensional dan Bank Syariah Dalam Berbagai Bidang

Perbedaan Bank Konvensional dan Bank Syariah. Lagi pula, di situlah kami menyimpan tabungan kami. Tidak semua orang memiliki tabungan di bank, tetapi setiap orang perlu memahami cara kerjanya. Ketika kita pertama kali dididik, kita pasti secara umum digambarkan sebagai “apa sebenarnya bank itu?” Nah, mungkin karena masalah ini, kita bisa berpendapat bahwa bank adalah tempat untuk menyimpan atau meminjam uang. Arti bank benar, tetapi definisinya tidak sempurna.

Menurut aturan UUD Negara Republik Indonesia No. Diluncurkan pada 10 Oktober 1998, tepatnya pada 10 November 1998 untuk perbankan. Padahal, bank adalah lembaga atau badan yang menangani kebutuhan masyarakat dalam hal simpanan dan membantu memberikan pelayanan perkreditan kepada masyarakat. Dan dengan cara lain untuk kesejahteraan orang. Dilihat dari jenisnya, bank dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu bank tradisional dan bank syariah. Kedua jenis bank tersebut pada dasarnya sama, namun yang membedakan adalah tingkat bunga nominal atau layanan yang diterapkan.

Pengertian Bank Konvensional dan Syariah

Sebelum mengelaborasi perbedaan antara bank tradisional dan bank syariah, ada baiknya dijelaskan terlebih dahulu definisinya.

  • Bank Konvensional

Menurut acuan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998, bank konvensional adalah bank yang melakukan kegiatan usaha secara tradisional. Artinya, dalam setiap kegiatan kami memberikan layanan dalam kisaran pembayaran umum dan didasarkan pada prosedur dan peraturan yang telah ditentukan sebelumnya oleh sistem perbankan. Misalnya Bank BRI, Bank BNI, Bank BCA, Bank Mandiri, Bank Danamon, Bank BTN dan masih banyak lagi.

  • Bank Syariah

Menurut referensi UU No. 10 Tahun 1998, bank syariah adalah bank yang selalu menggunakan prinsip syariah dalam melakukan segala sesuatu. Prinsip Syariah Pasal 10, Pasal 1, Ayat 13 Undang-Undang Dasar 1998 tentang Perbankan ditandatangani antara Syariah dan nasabahnya untuk jasa penitipan syariah, permodalan/pemberian pinjaman usaha, dan kegiatan lainnya yang dapat diartikan sebagai suatu perjanjian. hukum. Misalnya Bank Mandiri Syariah, Bank BNI Syariah dan masih banyak lagi.

Sekarang setelah kita memiliki pemahaman yang jelas tentang definisi bank tradisional dan bank syariah, sekarang saatnya untuk melihat perbedaan antara kedua jenis bank tersebut. Tentu saja, ada banyak perbedaan antara kedua jenis bank dalam banyak hal. Selain klaim hukum yang berbeda, bank tradisional dan bank syariah juga berbeda dalam hal arah, investasi, dan pengembalian pada dewan direksi yang menaungi mereka. Di bawah ini adalah beberapa perbedaan antara bank tradisional dan bank syariah yang perlu Anda pertimbangkan.

Perbedaan antara bank tradisional dan bank syariah

1. Cara menghimpun dana.

Perbedaan Bank Konvensional dan Bank Syariah yang pertama adalah cara menghimpun dana. Dari segi cara penghimpunan dana, bank tradisional dan bank syariah tentunya sangat berbeda. Ketika bank tradisional menggalang dana menggunakan tiga jenis produk layanan: tabungan, deposito, dan giro, setiap bank tradisional harus selalu menjanjikan bunga kepada nasabahnya dengan jumlah nominal yang tetap. Bank syariah sebaliknya tidak menyebut jasa dalam bentuk tabungan atau giro pada saat menghimpun dana, tetapi wadiah yad dhamanah dapat dikontrakkan atau diartikan sebagai titipan. Dalam dunia syariah, bank sebagai pengelola tidak memberikan bunga kepada setiap nasabah, melainkan bonus sesuai ketentuan bank.

2. Cara menyalurkan dana.

Dalam hal penyaluran dana, bank tradisional umumnya menyalurkan dana kepada masyarakat/nasabah dalam bentuk kredit. Karena prinsip yang berlaku pada bank tradisional adalah sistem kredit atau pinjaman, bank dijamin mendapatkan keuntungan dari setiap pelanggan dengan riba atau haram (menurut hukum Islam). Bank Islam, di sisi lain, selalu mengikuti ajaran Islam dan menggunakan berbagai prinsip, seperti kontrak Mudarabah, Murabahah dan Ihara, ketika mendanai pelanggan mereka. Untuk setiap nasabah yang meminjam sejumlah uang dari bank syariah biasanya tidak dikenakan bunga, melainkan untuk bagi hasil antara nasabah dengan bank.

3. Hukum yang digunakan.

Dalam hal landasan hukum, bank tradisional dan bank syariah memiliki landasan hukum yang sangat berbeda. Ketika bank tradisional menggunakan landasan hukum positif yang diterapkan dan diterapkan di Indonesia. Bagi bank syariah, hukum yang selama ini diterapkan adalah berdasarkan hukum Islam, yaitu berdasarkan Al-Qur’an, hadits, fatma ulama atau majelis ulama Indonesia.

4. Perbedaan orientasi.

Berkenaan dengan dua jenis masalah orientasi bank, bank tradisional umumnya berorientasi pada keuntungan, dan tidak seperti bank syariah, selain berorientasi pada keuntungan atau profit, bank syariah berorientasi pada kemakmuran dan kesejahteraan dunia. Dan mulai sekarang untuk semua pelanggan.

5. Perbedaan investasi.

Dalam hal investasi, ada perbedaan yang sangat unik antara bank tradisional dan bank syariah. Untuk bank tradisional, setiap nasabah dapat mengajukan pinjaman dari bank selama jaminan usaha masing-masing nasabah dinilai positif. Artinya, permohonan pinjaman akan tetap diterima meskipun jaminan usaha kepada calon pembeli dianggap masuk dalam hukum positif yang berlaku di Indonesia dan bukan halal. Sebaliknya, bank syariah pada umumnya diperbolehkan mengajukan pinjaman dengan syarat usaha yang dijadikan agunan halal dan harus baik menurut Islam, berbeda jauh. Misalnya perdagangan, pertanian, peternakan, dan masih banyak lagi.

6. Perbedaan pengawasan.

Perbedaan antara bank tradisional dan bank syariah juga terletak pada pengawasannya. Bank Syariah berada di bawah pengawasan dewan auditor yang terdiri dari ulama dan ekonom di bidang Muamara Fikhu. Sebaliknya, bank tradisional hanya tunduk pada hukum positif yang berlaku di Indonesia. Karena perbedaan pengawasan ini, bank tradisional dan bank syariah memiliki peraturan yang berbeda mengenai operasi perbankan mereka.

Layanan perbankan dalam perekonomian sangat penting. Dengan adanya bank tradisional dan bank syariah, masyarakat memiliki lebih banyak pilihan untuk menyimpan uangnya. Baik bank tradisional maupun bank syariah memiliki kekuatan dan kelemahan masing-masing. Perbedaan antara bank tradisional dan bank syariah dapat menjadi pertimbangan bagi masyarakat umum dalam memilih bank sesuai dengan keyakinannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *